Di luar rumah, bayangan hitam yang sudah pergi untuk melaporkan keberhasilan tugasnya, marah luar biasa. Gumpalan bara yang dia lempar dan berhasil masuk ke perut korban ternyata sebagian besar kembali! Dia harus kembali lagi untuk memasukkan sisa gumpalan bara itu ke perut korbannya. Keadaan kini tidak semudah tadi.
Malam itu Pak Min tidak bisa pulang. Dia diminta membantu zikir dan tadarus. Begitu juga Pak Kardi tidak berani meninggalkan Ratih, yang mendapat serangan di depan matanya.
Dukun itu benar-benar sakti. Ilmunya ngedab-edabi. Aku harus memberitahu mereka untuk berjaga-jaga, gumamnya dalam hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pak Kardi langsung memberitahu Rangga untuk memperketat perlindungan dengan zikir dan tadarus. Diingatkan untuk begadang malam ini, membantu Pakde Narto dan Mpek An Cong. Dia juga memberitahu Pakde Narto semua kejadian yang dialami Ratih.
Saat serah terima tugas pergantian sekuriti pukul 21.00 zikir terhenti. Isah keluar membawa termos air panas dan camilan, dan membawa kembali yang kosong. Keadaan ini dimanfaatkan oleh bayangan hitam untuk menyusup masuk. Bayangan hitam sukses masuk dan menanti di atas lemari gantung di garasi. Dengan mudah dia mengawasi ruang dalam dari pintu garasi yang terbuka, dan berhadapan langsung dengan tangga naik ke lantai dua.
Menjelang tengah malam, Pak Min yang bertugas zikir dan tadarus di garasi, telah terganggu oleh rasa mulas di perutnya. Dia berusaha untuk menahannya, namun tak mampu lagi. Segera dia berdiri dan bergegas ke kamar mandi belakang. Barman yang tengah khusuk tadarus al-Quran di ruang duduk, benar-benar tidak dapat menahan kantuk. Dia terlelap sebentar. Ninit meninggalkan pintu kamar terbuka untuk ke dapur membuat kopi. Arum sedang di kamar mandi. Tadarus dan zikir hanya lamat-lamat terdengar dan tidak berpengaruh pada keberadaan makhluk jahat.
Kesempatan baginya untuk menyerang tanpa penghalang. Bola hitam langsung menghantam dada Ratih yang tertidur pulas. Ratih menjerit histeris sambil kelojotan, meraung-raung tidak tahan menanggung rasa sakit yang luar biasa. Seluruh penghuni rumah geger, Ratih meringkuk muntah darah, Pakde tidak bisa dihubungi.
***
Keangkaramurkaan tidak selamanya menguasai segalanya. Suatu saat akan datang orang-orang yang tampak biasa saja, hidup dengan baik di masyarakat, namun ternyata mampu melibas durjana sakti mandraguna. Tak ada yang tak bisa, kecuali usaha keras dan ridha sang ilahi.
Pakde, saudara ipar Arum, datang membantu menangkal serangan gaib yang dikirim dukun sakti. Seorang dukun utusan seseorang yang menaruh dendam kesumat kepada keponakannya, Ratih putri Arum. Berdua Mpek An Cong sepakat untuk memulai pencarian dukun Jungsemi, sosok jahat yang telah menguasai Erlika. Keduanya berkomitmen untuk menghentikan sepak terjangnya sebelum semuanya terlambat.
Sebelum menuju ke tempat dukun sakti jahat yang telah menyerang keluarganya, mereka pergi ke sebuah klenteng untuk menemui kelompok aliran putih tempat Mpek An Cong bergabung. Sebelumnya mereka telah menyebar untuk mencari informasi tentang sang dukun sesuai ciri-ciri dari cara penyerangan dan benda-benda yang dikirim secara gaib. Ini semua perlu dilakukan untuk menyingkat waktu.
Saat sedang berdiskusi, ponsel Pakde berbunyi. Melihat siapa yang menghubungi, Pakde meminta maaf. Dia keluar untuk menerima sambungan dari Pak Kardi.
Maaf Kangmas, kami diikuti bayangan hitam begitu keluar dari rumah. Bayangan itu hancur oleh zikir dan tadarus Quran!
Innalillahi, lalu sekarang bagaimana?
Begitu sampai, Jeng Ratih diserang saat turun dari mobil! Jeng Ratih kesakitan.
Dengan tergopoh Pakde masuk ruangan pertemuan. Pakde menyadari jika mereka harus benar-benar mempersiapkan kekuatan, kemampuan dan ketangguhan mental untuk menghadapi dukun sakti legendaris itu. Begitu duduk, Pakde melaporkan kejadian yang menimpa keponakannya.
Maaf, Ratih diikuti bayangan gelap itu sejak meninggalkan rumah. Alhamdulillah bisa dihancurkan. Tapi rupanya bayangan itu mampu menyatukan diri. Lalu sampai di rumah keluarga Barman, pas Ratih mau turun mobil, bayangan itu menyerangnya. Sekarang dia kesakitan.
Serangan dari arah jalan! seru Mpek An Cong sambil menggebrak meja dengan marah dan penuh penyesalan. Rencananya sebelum berangkat memasang tabir pengaman, ternyata dukun itu bergerak lebih cepat.
Tenanglah, kalian berangkat saja, nanti aku yang pasang pagar pengaman. Di rumah Barman, kan? saran Tetua Pengurus Klenteng.
Mpek An Cong mengangguk. Hatinya tentram, kepala klenteng ikut cawe-cawe. Jam dinding menunjukkan waktu sudah mau masuk magrib, monggo ngibadah Magrib Pakde, silakan, Gendon akan mengantar.
Pakde mengikuti orang yang dipanggil Gendon ke sebuah ruangan di balik altar. Dia melaksanakan salat magrib dijamak qasar dengan salat Isya. Selesai salat Pakde menelpon Pak Kardi.
Kami mau berangkat. Lagi di mana sekarang?
Masih di rumah keluarga Sumbogo. Nggak berani ninggal Jeng Ratih.
Oke, aku titip ya, Di. Kami segera berangkat. Alhamdulillah lokasi sudah ditemukan. Bersyukur ada kendaraan menuju lokasi terdekat. Insyaallah tengah malam nanti kami memberi kejutan. Doakan, ya Di. Kami tidak hanya berdua tapi didampingi kelompok Mpek Cong. Assalamualaikum.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






