Redaksiku.com – Setelah 20 tahun menjalani masa hukuman di balik jeruji besi, Pertiwi akhirnya melangkah pulang ke kampung halaman yang menyimpan sejuta misteri. Langkah kaki yang lelah itu bukan sekadar mengantar kepulangan fisik, melainkan membuka kotak Pandora berisi luka lama, trauma kolektif, dan ketidakadilan sosial yang bertahun-tahun terkubur rapat. Kisah penuh pergulatan batin ini menjadi nadi utama dalam film terbaru garapan sutradara Kamila Andini dan produser Ifa Isfansyah yang siap menyapa penonton di seluruh bioskop tanah air mulai 8 Oktober 2026.
Perjalanan panjang seorang perempuan yang mencoba merajut kembali sisa-sisa hidupnya setelah dua dekade hilang direnggut penjara divisualisasikan secara apik. Kamila Andini tidak memilih jalan cerita yang klise tentang drama kepulangan biasa. Ia meramu naskah yang memadukan unsur drama mendalam, ketegangan suspense thriller, teka-teki misteri, hingga sentuhan fiksi ilmiah yang memperkaya pengalaman menonton.
Perubahan atmosfer cerita ini berjalan seiring dengan langkah Pertiwi yang perlahan mengupas satu per satu lapis masalah yang membentuk masa lalunya. Pengalaman hidup di penjara mengubah cara pandangnya terhadap dunia luar, membuat proses adaptasi dengan lingkungan asalnya menjadi sebuah tantangan psikologis yang berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Eksplorasi Genre dan Kedalaman Emosional Karakter
Karakter Pertiwi diperankan dengan sangat kuat oleh aktris berbakat Putri Marino. Ia harus menyelami emosi kompleks seorang perempuan muda yang kehilangan masa mudanya dan kini harus mengenali ulang identitas dirinya di tengah masyarakat yang telah berubah.
Sutradara Kamila Andini menjelaskan bahwa film ini berbicara banyak tentang ketidakadilan struktural yang berdampak panjang. Trauma yang dialami oleh karakter utama bukan sekadar masalah privat, melainkan cerminan dari persoalan sosial yang lebih luas di tengah masyarakat.
Pengalaman hidup Pertiwi menunjukkan bagaimana trauma kolektif mampu membentuk ketahanan sekaligus memberikan ruang bagi seseorang untuk bangkit serta memengaruhi orang lain.
Menurut Putri Marino, mendalami karakter Pertiwi menuntut kesiapan emosional yang tinggi karena lapisan luka yang dibawa tokoh ini melampaui usianya. Ia melakukan riset mendalam, termasuk membaca berbagai literatur untuk memahami kondisi psikologis narapidana yang baru kembali ke masyarakat setelah sekian lama terisolasi.
Latar Lanskap Bromo dan Nuansa Sinematik
Pemilihan lokasi syuting memegang peranan krusial dalam membangun atmosfer film ini. Lanskap kawasan Bromo dipilih untuk menghadirkan bentangan alam yang luas, sunyi, dan menantang, yang kemudian dipadukan dengan pendekatan visual bernuansa cowboy western.
Kombinasi artistik tersebut berhasil memperkuat kesan keterasingan yang dirasakan Pertiwi sepanjang pencarian jati dirinya. Rumah yang dulu dikenal kini terasa asing, dipenuhi orang-orang dari lingkaran sosial yang sama-sama tersisih oleh keadaan zaman.
Dari interaksi dengan masyarakat pinggiran inilah Pertiwi menemukan makna baru tentang arti rumah yang sebenarnya. Kehilangan yang bertumpuk justru menuntunnya pada pemahaman bahwa kepulangan tidak selalu berarti kembali ke titik awal yang sama.
Perjalanan Menuju Festival Internasional dan Panggung Oscar
Sebelum resmi tayang di bioskop domestik, film ini telah lebih dulu berkelana dan mencuri perhatian di berbagai ajang festival film bergengsi dunia. Perjalanan internasional tersebut membuktikan kualitas sinema Indonesia di mata penikmat film global.
- Menjalani pemutaran perdana dunia atau world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF).
- Melanjutkan penayangan di Tokyo International Film Festival serta Singapore International Film Festival (SGIFF) 2026.
- Hadir menyapa penonton di Busan International Film Festival (BIFF) 2026 secara bersamaan dengan penayangannya di Indonesia.
Kualitas naratif dan visual film ini mengantarkannya terpilih sebagai wakil resmi Indonesia untuk bersaing dalam kategori Best International Feature Film pada ajang penghargaan Oscar 2027.
Pencapaian ini juga menandai tonggak sejarah penting bagi rumah produksi Forka Films. Proyek ambisius ini melibatkan skema ko-produksi internasional dari enam negara sekaligus, yakni Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.
Deretan aktor dan aktris kenamaan turut memperkuat jajaran pemeran dalam film ini, menghadirkan dinamika akting yang memukau di layar lebar.
Daftar Pemeran Utama
Keberhasilan emosional film ini didukung oleh ansambel pemeran lintas generasi yang memberikan nyawa pada setiap karakter di dalam cerita. Berikut adalah jajaran pemeran utama:
- Putri Marino
- Arya Saloka
- Christine Hakim
- Hana Malasan
- Shofia Shireen
- Nagra Pakusadewo
- Dwika Pradnyana
- Maryam Supraba
- Hanna Aretha
- Totos Rasiti
- Iswadi Pratama
- Hargi Sundari
- Ayub Antoh
- Almarhum Donikus
Pada akhirnya, film ini meninggalkan pertanyaan mendalam bagi setiap penonton yang menyaksikannya. Setelah dua dekade terenggut oleh jeruji besi, apakah pulang sekadar kembali ke tempat asal, atau sebuah keberanian mutlak untuk menghadapi bayang-bayang masa lalu?
Pertanyaan Umum
Kapan film ini mulai tayang di bioskop Indonesia?
Film ini dijadwalkan mulai tayang di seluruh bioskop Indonesia pada tanggal 8 Oktober 2026, bertepatan dengan penayangannya di ajang Busan International Film Festival.
Siapa saja sutradara dan pemeran utama film ini?
Film ini disutradarai oleh Kamila Andini dengan diproduseri oleh Ifa Isfansyah, serta dibintangi oleh Putri Marino sebagai pemeran utama bersama Arya Saloka, Christine Hakim, dan banyak aktor lainnya.
Apa pencapaian internasional yang diraih film ini?
Selain melanglang buana ke berbagai festival film internasional seperti TIFF dan BIFF 2026, film ini juga resmi ditunjuk sebagai wakil Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di ajang Oscar 2027.
Ringkasan
Film terbaru berjudul “Empat Musim Pertiwi” garapan sutradara Kamila Andini dan produser Ifa Isfansyah dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Dibintangi oleh Putri Marino sebagai pemeran utama bersama jajaran aktor kenamaan seperti Arya Saloka dan Christine Hakim, film ini mengisahkan perjalanan seorang perempuan bernama Pertiwi yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani masa hukuman selama 20 tahun.
Diproduksi oleh Forka Films melalui skema ko-produksi internasional dari enam negara—Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia—cerita ini memadukan unsur drama mendalam, ketegangan suspense thriller, misteri, dan fiksi ilmiah dengan latar lanskap kawasan Bromo. Sebelum penayangan domestiknya, film ini telah melakukan pemutaran perdana di Toronto International Film Festival (TIFF), serta hadir di Tokyo, Singapore, dan Busan International Film Festival 2026.
Kualitas naratif dan visual karya ini mengantarkannya terpilih sebagai wakil resmi Indonesia untuk bersaing dalam kategori Best International Feature Film pada ajang penghargaan Oscar 2027. Eksplorasi mendalam mengenai ketidakadilan struktural, trauma kolektif, dan proses adaptasi psikologis ini menuntut kesiapan emosional yang tinggi dari Putri Marino dalam menyelami kompleksitas karakter Pertiwi.






