Demi Anak
Mereka ternyata tidak bisa melanjutkan pembicaraannya pada malam itu juga karena Tsabita merengek mau tidur bersama ibunya. Ayyara baru bisa mendengarkan penjelasan Abyan beberapa hari setelahnya.
Meskipun buat Abyan sudah tidak ada lagi masalah, tapi tidak bagi Ayyara. Dia merasa kalau suaminya ini memang ada hubungan khusus dengan perempuan yang bernama Lidya itu.
Kesibukan Abyan mengurus perusahaannya membuat mereka belum memiliki waktu yang luang untuk bisa berbicara lebih mendalam terkait hal ini.
Masa pemulihan Ayyara pun ternyata cukup panjang. Walaupun sudah pulang ke rumah, tapi dia masih harus beristirahat total tanpa banyak melakukan kegiatan fisik yang melelahkan.
Karena alasan itu juga, keluarga Ayyara harus bergantian menemaninya saat di rumah sendirian.
“Mbak, kemarin Papa nanyain kamu, loh.” Gita yang pagi itu kebagian jadwal menemani kakaknya ini, sedang duduk saling berhadapan di ruang keluarga.
“Terus, kamu ngomong apa?” Ayyara memicingkan mata menatap adiknya yang sedang fokus memotong buah apel.
“Dari sejak kejadian itu, aku cuma bilang kalau Mbak Ayya jatuh di kamar. Ya, samalah seperti yang diceritain Mas Aby ke semua orang.” Gita mengatakan itu sambil menyerahkan sepiring kecil potongan buah apelnya pada Ayyara.
“Syukur, deh … kalau Papa percaya ini semua murni kecelakaan, tanpa ada embel-embel yang lainnya.” Ayyara menyuap satu potong apel ke dalam mulutnya.
Dia tidak ingin memperburuk kondisi kesehatan sang ayah yang sudah sejak lama terbaring di tempat tidur karena strok. Ayyara menarik napas perlahan, memandangi foto keluarga kecilnya yang tergantung di dinding ruangan tersebut. Potret kebahagiaan yang menjadi impian banyak orang, tapi tidak pernah ada yang tahu apa yang terjadi di dalamnya.
“Rencana Mbak, mau laporin Mas Aby atas kasus kekerasan itu, jadi?” Gita mulai mencari tahu pemikiran Ayyara saat ini.
“Entahlah, Git. Aku masih bingung, apa iya ini jalan terbaik untuk masalah rumah tanggaku?”
“Loh, kok, gitu? Mbak kan, waktu awal-awal udah yakin banget mau perkarain kasus ini. Aku sampai bolak-balik, bela-belain minta surat keterangan dari dokter, kalau luka Mbak itu akibat benturan benda tumpul.”
“Tapi, nggak ada saksinya, Git.”
“Cewek itulah, sekalian aja jadiin dia sebagai tersangkanya alisa pelakor!” Gita bersungut-sungut.
Ayyara tersenyum sinis. “Mana mau dia? Apalagi sampai hari ini Mas Aby masih menyangkal. Dia nggak ngaku berselingkuh.”
“Hais, Mbak ini polos apa oon, sih? Mana ada maling teriak maling? Memang, kalau perempuan dan laki-laki yang tidak ada ikatan resmi, berdua aja di kamar, ngapain? Main conglak?” ucap Gita sewot.
“Tapi, Mas Aby bilang, ‘Aku sama dia nggak ngapa-ngapain. Itu aku baru nyampe dari bandara, capek banget langsung tidur’, gitu katanya,” ujar Ayyara mengulangi ucapan Abyan saat dia bertanya kejadian sebenarnya.
Gita hanya geleng-geleng kepala melihat sikap kakaknya itu. Bukan kali pertama Ayyara menghadapi kasus kehadiran wanita lain dalam rumah tangganya. Tapi, Abyan selalu bisa membuktikan kalau semua wanita itu tak lebih dari sekedar rekan kerja.
“Ya, sudah, deh … aku nggak mau ikut campur urusan rumah tanggamu. Tapi ingat, jangan menyakiti diri sendiri dengan dalih demi anak!” Gita mencoba mengingatkan.
Kemudian, dia berlalu menuju dapur, meninggalkan Ayyara sendirian di sofa ruang keluarga karena dirinya masih harus menyiapkan makanan untuk kakaknya itu.
Kata-kata Gita memaksa otaknya untuk memutar kembali memori dia pada awal-awal pernikahan. Saat itu mereka baru dua bulan menikah.
“Kamu yakin, Mas … mau ambil tawaran ini?” Ayyara yang sedang memandangi surat resmi dari kampus tempat Abyan kuliah. Sang suami diberikan kesempatan jadi asisten dosen di sana.
Abyan berjalan menghampiri istrinya yang tengah duduk bersandar di atas kasur, di kamar mereka. Dia duduk di samping Ayyara, melingkarkan tangannya dari belakang punggung sang istri.
“Iya Ay, sekalian aku ambil S2 di sana. Kata dosenku, ini tuh, bisa jadi batu loncatan buat aku. Jadi, selesai S2 nanti peluang jadi dosen benerannya lebih besar.” Abyan mengucapkan itu sembari mengeratkan pelukan hingga tubuh Ayyara sedikit miring bersandar di dada bidangnya.
Perempuan muda itu mendongakkan kepala, melihat ke arah suaminya. “Memang, iya? GR banget.” Dia sengaja menggodanya.
Abyan pun sedikit menundukkan kepala sambil mesem-mesem. “Mending GR-lah daripada minder, iya kan?” Dia menaikkan alis kanannya.
Ayyara menirukan ucapan suaminya dengan menggerak-gerakkan bibir tanpa suara. Hal ini memancing kejailan Abyan. Dia menggelitik pinggang istrinya. Alhasil, wanita berkulit putih ini tertawa-tawa tanpa henti.
“Mas, cukup, Mas … aku nggak kuat.” Abyan masih tak mengindahkan ucapannya. “Mas Abiii … ampun, aku nyerah.” Napas Ayyara terengah-engah saat mengatakannya.
Posisi badan Ayyara sampai melorot karena bergerak-gerak terus menghindari gelitikin Abyan sampai benar-benar terlentang di atas kasus.
Abyan yang berada di sampingnya dengan posisi miring menghadap Ayyara. Dia menopang kepalanya dengan tangan kiri sehingga letaknya lebih tinggi dari kepala istrinya. Deru napas keduanya masih tersengal-sengal karena banyak bergerak dan tertawa.
Jemari kanan Abyan perlahan menyibakkan rambut Ayyara yang menutupi sebagian wajahnya, laiu menyelipkan ke belakang telinga. Sekarang dia bisa lebih puas memandangi wajah sang kekasih yang kini telah resmi menjadi teman hidupnya.
Meskipun sudah dua bulan menikah, Ayyara masih merasa malu-malu jika bertatapan sedekat itu. Dia segera menundukkan mata sambil menggigit-gigit bibir saat menyadari jemari Abyan mulai membelai lembut pipinya.
Mereka merasakan debaran jantungnya kian kencang. Bentuk bibir Ayyara yang penuh, terlihat kian menggoda dengan warna merah muda segar. Bagi Abyan, bagian ini terlampau sulit untuk dilewatkan begitu saja.
Dirinya mana tahan melihat keindahan di depan mata begini. Secara pelan, tapi pasti, dia mendekatkan wajahnya ke arah sang istri hingga nyaris tak berjarak. Ayyara hanya merasakan hawa hangat dari hembusan napasnya.
Abyan tidak lagi membutuhkan petunjuk jalan untuk menuntun langkahnya mencapai tujuan, justru akan sangat bersyukur seandainya tersesat dan berlama-lama di sana. Kenikmatan surga dunia yang bisa dirasakan oleh setiap pasangan halal.
Kehidupan awal pernikahan yang indah dan sesuai bayangin Ayyara selama ini. Apalagi memasuki bulan kelima, dia mulai mengandung anak pertama mereka.
“Alhamdulillah, ya Ay … kita nggak perlu menunggu lama untuk dikaruniai seorang anak.” Abyan mengelus lembut perut istrinya yang mulai membesar.
Ayyara tersenyum sambil mengangguk. Penghasilan Abyan sebagai asisten dosen memang tidak banyak, tapi karena kecerdasannya membuat dia sering mendapat kesempatan ikut projek bersama para dosen di luar jobdesk.
“Sayang, maaf, ya … aku masih belum bisa ngasih kamu kehidupan yang nyaman,” sesalnya, “tapi aku janji bakal berusaha lebih keras demi kamu sama calon baby kita.”
Ayyara berada dalam pelukannya, kembali tersenyum. Keduanya tengah duduk di ayunan rotan yang berada di halaman belakang “Iya, Mas … aku percaya sama kamu. Sekarang pun, aku tetap bersyukur dengan segala pencapaian yang udah kamu raih.”
Abyan mengeratkan pelukan, matanya ikut berkaca-kaca karena teramat bersyukur memperoleh jodoh seperti istrinya saat ini. Perempuan yang mau menerima dan memahami dirinya, tak pernah memaksakan kehendak.
“Jujur, awalnya aku nggak setuju ketika kamu memutuskan untuk nggak kerja, di awal pernikahan kita dulu.”
“Oh, ya? Kok, kamu nggak pernah ngomongin soal ini?” Ayyara yang tadinya bersandar pada bahu sang suami, langsung menegakkan tubuh dan mengunci pandangan padanya.
“Hmm_” Abyan mengangguk, “karena kupikir, kamu bakalan bosan di rumah seharian, tapi saat sekarang mengetahui kamu hamil, aku malah senang banget. Dengan kamu ada di rumah, jadi nggak khawatir ninggalin kamu pas aku
Pandangan Ayyara masih belum teralihkan dari wajahnya. “Makasih kamu udah mikirin aku sampai segitunya. Alhamdulillah, aku nggak bosen juga di rumah karena banyak yang bisa aku kerjain selain masak atau beres-beres rumah.” Dia mengatakan itu sembari menoleh ke arah jendela besar di samping kiri halaman belakang.
Dari sana Ayyara bisa melihat ruang keluarga mereka yang dipenuhi beragam karya dirinya. Sebagai seorang sarjana lulusan tata busana, dia banyak memanfaatkan keterampilannya dalam menjahit untuk menghiasi rumah mereka dengan aneka hasil kerajinan tangan.
“Selain itu, sekarang aku sering diajak untuk datang ke kajian bareng Fathiya. Aku jadi punya banyak ilmu baru terkait pemahaman tentang agama.” Mata Ayyara berbinar saat mengatakannya. Hal ini jelas memberikan kehangatan di hati Abyan.
Meskipun dirinya merasa masih banyak kekurangan waktu dalam membersamai, tapi setidaknya, sang istri memiliki teman yang bisa diandalkan. Kehadiran Fathiyasepupunya inijuga bisa menjadi benteng perlindungan untuk Ayyara dari lingkungan yang kurang baik setelah berumah tangga.
Abyan mampu menyelesaikan kuliah S2-nya tepat waktu. Ternyata, benar apa yang disampaikan dosennya dulu, setelah lulus memperoleh gelar magisternya, Abyan langsung diterima menjadi dosen di kampus tersebut.
Tidak ada perjalanan pernikahan yang mulus terus tanpa hambatan. Begitu pula dengan kehidupan rumah tangga mereka, memasuki tahun ke-4 pernikahan, kerikil itu mulai hadir. Pada awalnya, Ayyara mencoba tutup mata dan telinga atas segala selentingan kabar tentang suaminya.
Sampai kemudian, ada teman seangkatan Abyan yang juga sahabat Ayyara saat di SMA dulu, menyampaikan kabar ini kepadanya.
“Ay, gue tahu suami lo itu laki-laki baik, tapi justru karena kebaikannya itulah yang membawa dia pada keburukan.” Manda menyampaikan kalimat tersebut pada suatu siang, sepulangnya dari tempat kerja. Keduanya duduk santai di teras samping rumah Ayyara.
Ayyara memandang temannya itu dengan sorot mata bingung karena tak paham maksud omongannya tersebut.
“Aneh lo, emang ada, kebaikan yang menyebabkan keburukan?”
“Itu buktinya, suami lo!”
Dibaca: 506
Follow WhatsApp Channel www.redaksiku.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow