Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menjadi sorotan publik setelah komentarnya viral dalam rapat Komisi X DPR RI.
Dalam forum resmi tersebut, seorang anggota dewan menyematkan julukan tak biasa kepadanya.
Namun, bukan marah atau tersinggung, Gubernur Dedi Mulyadi justru menanggapinya dengan gaya khasnya yang penuh humor dan ketenangan.
Awal Mula Dedi Mulyadi Dapat Julukan Gubernur Lambe Turah

Dalam rapat kerja Komisi X DPR RI yang berlangsung di Gedung Parlemen, Jakarta, pada Rabu, 21 Mei 2025, suasana yang awalnya berlangsung serius mendadak menjadi riuh dan menarik perhatian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal ini terjadi setelah salah satu anggota Komisi X dari Fraksi PKB, Andi Muawiyah Ramli, melontarkan sebuah julukan tidak biasa kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Di tengah pembahasan, Andi menyebut Dedi dengan sebutan Gubernur Lambe Turah, sebuah istilah yang lazimnya diasosiasikan dengan akun media sosial yang membahas gosip dan isu hangat seputar selebriti.
Pernyataan tersebut sontak mengundang kejutan dari berbagai pihak yang hadir. Pasalnya, forum resmi DPR RI dikenal memiliki aturan dan norma tertentu yang mengatur tata bahasa maupun etika dalam berdiskusi.
Maka ketika istilah seperti Lambe Turah muncul dalam suasana formal, hal itu tentu menjadi perhatian tersendiri.
Banyak yang mengira Gubernur Dedi Mulyadi akan memberikan respons serius, atau bahkan menyampaikan keberatan secara resmi, mengingat konteks ucapan tersebut bisa dianggap sebagai bentuk sindiran atau kritik bernada satir.
Namun reaksi Dedi Mulyadi justru di luar dugaan. Dengan wajah tenang dan nada bicara yang santai, ia menjawab dengan logat Sunda khasnya yang selalu menjadi ciri khas dirinya dalam setiap penampilan publik.
Alih-alih membalas dengan nada tinggi, ia justru menanggapi dengan seloroh ringan, Heeh, ya terus… penting ieu dibéré gelar naon deui waé, cenah aing aya nu méré gelar deui, anggota DPR tadi ka aing nyebutkeun Gubernur Lambe Turah. Keun baé aing mah disebut Gubernur Lambe Turah gé, da rata-rata jalma sok hayang asup ka Lambe Turah.
Ucapannya itu disampaikan dengan logat Sunda yang khas dan penuh canda, yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih berbunyi:
“Iya, terus kenapa? Nggak penting juga dikasih gelar apalagi. Katanya tadi ada yang kasih gelar baru, anggota DPR itu bilang ke saya ‘Gubernur Lambe Turah’. Ya biarin aja, saya mah disebut Gubernur Lambe Turah juga nggak masalah, soalnya kebanyakan orang malah pengin masuk Lambe Turah.”
Pernyataan tersebut tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga langsung disambut dengan gelak tawa dari sejumlah pihak yang berada di ruangan, termasuk para warga yang ikut hadir sebagai undangan dalam forum terbuka tersebut.
Tepuk tangan riuh pun mengiringi tawa yang pecah setelah jawaban tersebut dilontarkan. Dalam situasi yang bisa saja menjadi polemik, Gubernur Dedi Mulyadi justru memilih pendekatan yang jauh lebih ringan dan humoris.
Respons ini memperlihatkan karakter Gubernur Dedi yang tidak mudah terpancing oleh provokasi atau sindiran.
Ia memahami bahwa dalam dunia politik, berbagai label atau komentar bisa datang kapan saja, namun yang terpenting adalah bagaimana cara menyikapinya.
Dengan membalas julukan itu secara santai dan bahkan menjadikan bahan candaan, ia berhasil mengubah potensi tensi menjadi momen yang menghibur. Sikap tersebut pun dinilai banyak pihak sebagai bentuk kedewasaan dan kecerdasan dalam berkomunikasi politik di ruang publik.
Gubernur Dedi Mulyadi Fokus pada Kerja Nyata, Bukan Julukan Politik
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa gelar atau julukan tidak pernah menjadi hal yang penting baginya. Ia menekankan bahwa yang paling utama adalah menepati janji kepada rakyat.
Halaman : 1 2 Selanjutnya






