Hening Dzikrillah: Minta Maaf dan Siap Evaluasi Diri
Dalam kesempatan terpisah, Hening Dzikrillah juga telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial pribadinya.
Ia mengakui bahwa pernyataan dalam rekaman tersebut memang tidak pantas dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di masa mendatang.
Saya menyadari ucapan saya tidak sepatutnya diucapkan, dan saya meminta maaf kepada semua pihak yang merasa terganggu, tulis Hening.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Wali Kota Eri Cahyadi karena masih memberikan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Publik Menilai: Keteladanan dalam Menghadapi Krisis
Reaksi masyarakat terhadap cara Eri menyelesaikan persoalan ini sebagian besar positif.
Banyak pihak memuji pendekatan yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan pembinaan ketimbang hukuman instan.
Sejumlah tokoh muda di Surabaya bahkan menyebut sikap Eri sebagai contoh nyata kepemimpinan inklusif, yang memberi ruang bagi kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
Anak muda sekarang butuh pemimpin yang bisa mendidik tanpa menghakimi. Tindakan Cak Eri menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tidak sekadar memerintah, tapi juga menumbuhkan, kata Yusuf Firmansyah, aktivis komunitas pemuda Surabaya.
Menguatkan Budaya Kerja yang Humanis
Eri Cahyadi memang dikenal sebagai pemimpin yang mendorong budaya kerja humanis di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya.
Sejak menjabat, ia kerap menekankan pentingnya empati, gotong royong, dan nilai moral dalam pelayanan publik.
Baginya, menjadi ASN atau staf pemerintahan bukan sekadar bekerja secara administratif, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun karakter bangsa.
Setiap orang bisa salah, tapi tugas kita adalah memastikan mereka bisa memperbaiki diri. Di situ makna kepemimpinan yang sebenarnya, ujarnya dalam berbagai kesempatan.
Konteks Lebih Luas: Manajemen Krisis di Era Media Sosial
Insiden Hening juga membuka diskusi lebih luas mengenai bagaimana pejabat publik mengelola reputasi digital di era keterbukaan informasi.
Keterhubungan langsung antara pejabat dan masyarakat melalui media sosial menciptakan dinamika baru dalam komunikasi publik.
Kesalahan kecil bisa viral dalam hitungan menit. Tapi justru di situlah pemimpin diuji, apakah reaktif atau reflektif, ujar pakar komunikasi publik dari ITS, Dr. Andi Rahman.
Menurutnya, cara Eri menghadapi situasi ini menjadi contoh krisis manajemen yang efektif mengakui kesalahan, menunjukkan empati, dan menegaskan nilai pendidikan moral.
Penutup: Kesalahan Bukan Akhir, Tapi Awal Perbaikan
Kasus Hening Dzikrillah dan respons Eri Cahyadi menjadi potret kepemimpinan yang humanis di tengah tekanan publik digital.
Alih-alih menempuh jalan represif, Eri memilih jalur pembinaan, menolak pengunduran diri bawahannya, dan mengajak seluruh staf belajar dari pengalaman.
Sikap tersebut bukan hanya memperkuat citra positif Wali Kota Surabaya sebagai pemimpin yang bijak, tetapi juga memberikan pesan moral kuat bagi masyarakat: bahwa setiap kesalahan, sekecil apa pun, bisa menjadi batu loncatan menuju kedewasaan.
Yang penting bukan seberapa besar kesalahan, tapi bagaimana seseorang memperbaikinya, tutup Eri Cahyadi.
Ikuti berita viral dari Redaksiku di Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2







Jadilah yang pertama berkomentar
Bagikan tanggapan Anda secara santun. Komentar yang relevan membuat diskusi lebih bermanfaat.