Redaksiku.com – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi akhirnya angkat bicara terkait viralnya rekaman suara Hening Dzikrillah, admin media sosial pribadinya, yang sempat menjadi sorotan publik.
Meskipun insiden tersebut memunculkan gelombang kritik di dunia maya, Eri memilih bersikap bijak dan menolak pengunduran diri Hening. Ia menegaskan bahwa kesalahan bukanlah alasan untuk menghancurkan karakter seseorang, terutama bagi anak muda yang sedang belajar dan berproses.
Pernyataan ini disampaikan Eri kepada wartawan pada Selasa (4 November 2025), usai meninjau sejumlah agenda pemerintahan di Balai Kota Surabaya.
Rekaman Suara Viral dan Reaksi Publik
Kasus ini bermula dari beredarnya rekaman suara Hening Dzikrillah, pengelola media sosial pribadi Wali Kota Surabaya, yang dianggap kurang pantas dalam konteks komunikasi publik.
Potongan suara tersebut tersebar di berbagai platform media sosial, termasuk TikTok dan X (Twitter), sehingga memicu perdebatan warganet mengenai profesionalisme admin media publik pejabat pemerintahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski rekaman itu dinilai bersifat pribadi dan tidak mewakili pernyataan resmi Pemkot Surabaya, isu ini berkembang cepat dan menimbulkan spekulasi beragam.
Sebagian masyarakat menganggap tindakan Hening mencoreng citra pejabat publik, sementara sebagian lainnya menilai kesalahan itu tidak perlu dibesar-besarkan karena konteksnya bersifat candaan.
Cak Eri: Itu Hanya Kekhilafan, Bukan Niat Buruk
Menanggapi hal tersebut, Eri Cahyadi dengan tenang menjelaskan bahwa kejadian itu murni kekhilafan.
Ia menyebut Hening tidak memiliki maksud buruk atau niat untuk menyinggung pihak mana pun, melainkan hanya terpeleset dalam ucapannya saat bercanda.
Mbak Hening itu khilaf. Salah dalam kalimatnya ketika sedang guyon (bercanda). Tidak ada niat untuk menyinggung siapa pun, ujar Eri saat diwawancarai wartawan.
Eri menegaskan bahwa sebagai pemimpin, ia memandang persoalan ini secara proporsional dan manusiawi. Menurutnya, setiap orang, terlebih generasi muda yang baru bekerja, berpotensi melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang bertanggung jawab dan belajar dari pengalaman.

Menolak Pengunduran Diri: Jangan Bunuh Karakter Anak Muda
Setelah viralnya rekaman tersebut, Hening disebut langsung mengajukan surat pengunduran diri melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya sebagai bentuk tanggung jawab pribadi.
Namun, Eri menolak surat tersebut. Ia menegaskan bahwa pengunduran diri bukan solusi dan memilih memberi kesempatan bagi Hening untuk memperbaiki diri.
Ketika saya pulang dari Konferensi Asia Afrika di Blitar, saya diberitahu Sekda bahwa Mbak Hening sudah mengajukan pengunduran diri. Tapi saya bilang, tidak perlu, ungkap Eri.
Menurutnya, sikap seorang pemimpin tidak seharusnya langsung menghukum, melainkan memberi ruang bagi bawahannya untuk bangkit.
Kalau anak muda mengalami kegagalan atau khilaf, jangan dibunuh karakternya. Tapi ajak mereka untuk yakin dan bangkit. Karena itu bagian dari proses belajar dan pendewasaan, tegasnya.
Sikap Bijak Seorang Pemimpin
Langkah Eri menolak pengunduran diri Hening menuai banyak apresiasi. Warganet menilai sikap itu menunjukkan kepemimpinan yang berempati dan mendidik, bukan reaktif terhadap tekanan publik.
Sejumlah pengamat komunikasi publik juga menilai, keputusan Eri memperlihatkan keteladanan moral dan etika kepemimpinan yang matang.
Menurut Dr. Rini Agustina, dosen komunikasi politik Universitas Airlangga, tindakan Eri menunjukkan pemahaman mendalam terhadap manajemen sumber daya manusia di era digital.
Dalam konteks organisasi publik, kesalahan admin media sosial bisa menjadi pelajaran bersama. Yang penting adalah bagaimana pimpinan mengelola krisis dengan bijak tanpa menjatuhkan moral tim, ujarnya.
Pelajaran Etika Komunikasi Digital
Insiden ini menjadi pengingat penting tentang etika komunikasi digital di lingkungan pemerintahan.
Peran admin media sosial, terutama yang mengelola akun pejabat publik, tidak hanya sebatas teknis unggah konten, melainkan juga menyangkut citra institusi dan tanggung jawab moral.
Eri mengakui bahwa pihaknya akan memperketat mekanisme pengelolaan media sosial pribadi dan kelembagaan, termasuk pelatihan etika digital bagi staf komunikasi.
Teknologi itu alat, tapi yang paling penting adalah adabnya. Kita akan lakukan pembinaan agar ke depan lebih berhati-hati dalam setiap komunikasi publik, kata Eri.
Hening Dzikrillah: Minta Maaf dan Siap Evaluasi Diri
Dalam kesempatan terpisah, Hening Dzikrillah juga telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui media sosial pribadinya.
Ia mengakui bahwa pernyataan dalam rekaman tersebut memang tidak pantas dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam berkomunikasi di masa mendatang.
Saya menyadari ucapan saya tidak sepatutnya diucapkan, dan saya meminta maaf kepada semua pihak yang merasa terganggu, tulis Hening.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Wali Kota Eri Cahyadi karena masih memberikan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Berbagai sumber
Halaman : 1 2 Selanjutnya






