Redaksiku.com – Tikus tetap menjadi momok paling menakutkan bagi para petani padi di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Indramayu. Ketika populasi hewan pengerat ini meledak, ancaman gagal panen langsung menghantui sejak hari pertama masa tanam dimulai. Selama bertahun-tahun, petani mengandalkan berbagai cara instan untuk membasmi hama tersebut dari lahan mereka. Sayangnya, tidak semua metode konvensional tersebut aman bagi lingkungan maupun keselamatan manusia yang mengolahnya.
Berbagai upaya pembasmian telah dicoba oleh para petani setempat demi menyelamatkan bulir-bulir padi mereka. Mulai dari penggunaan racun kimia dosis tinggi, pengasapan lubang tikus, tradisi gropyokan massal, hingga pemasangan kawat berdali aliran listrik. Ironisnya, penggunaan jebakan setrum listrik di area persawahan sempat mencatat sejarah kelam dengan menimbulkan korban jiwa. Situasi berbahaya ini memaksa banyak pihak untuk memikirkan kembali strategi jangka panjang yang lebih selaras dengan prinsip keseimbangan alam.
Mengembalikan Peran Predator Alami di Ekosistem Pertanian
Wacana mengembalikan rantai makanan yang hilang mulai dilirik sebagai solusi alternatif yang lebih berkelanjutan. Pendekatan ekologis ini diwujudkan melalui program bertajuk Ular Sahabat Tani yang diinisiasi oleh pemerintah daerah bersama pegiat alam bebas. Pada 8 Agustus 2025, sebanyak 200 ekor ular dilepasliarkan secara serentak ke area persawahan di wilayah Indramayu. Langkah kontroversial namun terukur ini langsung menarik perhatian publik luas dan komunitas pertanian nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemerintah Kabupaten Indramayu bersama Panji Petualang melepaskan 200 ekor ular non-venomous ke persawahan untuk menekan populasi tikus.
Jenis reptil yang diterjunkan ke alam bebas bukanlah sembarang ular liar yang ditangkap tanpa seleksi ketat. Spesies yang dipilih merupakan kelompok ular pembelit pemangsa hewan pengerat yang aman bagi aktivitas manusia sehari-hari. Beberapa jenis ular yang mendominasi program pelepasan tersebut meliputi:
- Ular jali atau Ptyas mucosa yang dikenal aktif berburu mangsa di area terbuka.
- Ular koros atau Ptyas korros yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi di ekosistem pertanian.
- Ular lanang sapi atau Coelognathus radiatus yang sangat diandalkan dalam menekan laju perkembangbiakan tikus sawah.
Miskonsepsi Masyarakat Terhadap Ular Sawah
Kehadiran ular di tengah ekosistem pertanian sebenarnya bukan fenomena baru bagi para leluhur kita zaman dulu. Namun, seiring berjalannya waktu, populasi reptil penyeimbang ini merosot tajam akibat alih fungsi lahan dan tindakan warga yang langsung membunuhnya. Ketakutan berlebihan membuat masyarakat sering kali salah mengidentifikasi setiap jenis ular sebagai ancaman mematikan. Padahal, mayoritas ular tanah yang hidup di Pulau Jawa tidak memiliki kelenjar racun bisa yang berbahaya bagi manusia.
Amir Hamidy, herpetolog terkemuka dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, memberikan penjelasan ilmiah mengenai karakteristik biologis hewan tersebut. Menurut penjelasannya, hanya ada sekitar lima persen dari total populasi ular darat di Jawa yang benar-bosan memiliki racun mematikan. Kelompok rat snake atau ular tikus yang sengaja dilepas di Indramayu umumnya memiliki sifat pemalu dan memilih kabur. Mereka tidak akan menyerang manusia kecuali jika merasa terpojok, dipegang secara paksa, atau disakiti terlebih dahulu.
Seekor ular jali dewasa yang sehat tercatat sanggup memangsa hingga 12 ekor tikus dalam kurun waktu satu hari.
Hilangnya predator puncak di rantai makanan sawah membuat tikus semakin merajalela tanpa ada hambatan berarti. Kawasan pertanian modern yang menerapkan sistem monokultur juga menyediakan pasokan makanan berlimpah sepanjang tahun bagi hewan pengerat tersebut. Oleh karena itu, kehadiran kembali ular-ular pemburu diharapkan mampu mengembalikan mekanisme kontrol alami yang selama ini hilang dari ekosistem sawah.
Pertanyaan Umum
Apakah ular yang dilepas di Indramayu berbahaya bagi manusia?
Tidak berbahaya karena jenis yang dilepaskan adalah ular non-bisa seperti ular jali, koros, dan lanang sapi yang secara alami akan menghindar saat melihat manusia.
Berapa banyak tikus yang bisa dimakan oleh ular sawah?
Seekor ular jali ukuran dewasa mampu memangsa hingga 12 ekor tikus dalam satu hari, menjadikannya pengendali hama biologis yang sangat potensial.
Mengapa populasi ular di sawah semakin sulit ditemukan?
Penurunan populasi ular disebabkan oleh kerusakan habitat alami, alih fungsi lahan pertanian, serta tindakan perburuan dan pembunuhan oleh manusia karena salah persepsi.
Ringkasan
Pelepasan 200 ekor ular non-bisa seperti ular jali, koros, dan lanang sapi di Indramayu terbukti efektif mengendalikan populasi hama tikus secara alami tanpa membahayakan keselamatan manusia. Program ekologis ini menjadi solusi jangka panjang untuk menggantikan penggunaan racun kimia berbahaya dan jebakan listrik yang sering menimbulkan korban jiwa.





