Mulai tahun 2026, seluruh pelaksanaan ibadah haji bagi jemaah Indonesia akan menjadi tanggung jawab penuh Badan Penyelenggara Haji (BP Haji).
Peralihan wewenang ini menandai babak baru dalam pengelolaan ibadah haji nasional, menggantikan peran utama yang sebelumnya dipegang oleh Kementerian Agama.
Meski penyelenggaraan haji 2025 telah selesai, BP Haji tak ingin menyia-nyiakan waktu untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Salah satu perhatian besar datang dari kualitas dan kinerja petugas haji yang bertugas mendampingi jamaah selama di tanah suci.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Wakil Kepala BP Haji, Dahnil Anzar Simanjuntak, ditemukan fakta bahwa sebagian petugas hanya ikut serta tanpa menjalankan tugasnya dengan baik.
BP Haji Temukan Petugas Haji Hanya Nebeng Berangkat, Evaluasi Ketat Jadi Prioritas
Dalam sesi evaluasi penyelenggaraan haji 2025, Dahnil menyampaikan bahwa ada indikasi sejumlah petugas hanya menggunakan status “petugas haji” sebagai tiket gratis untuk berhaji.
Ia menyebutkan bahwa sebagian dari mereka tidak menjalankan fungsinya selama mendampingi jamaah, bahkan tidak terlibat aktif dalam pelayanan apapun.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Haji bukan ajang jalan-jalan, apalagi dengan mengatasnamakan tugas,” tegas Dahnil dalam konferensi pers di Kantor BP Haji, Jakarta Pusat.
Hal ini menodai semangat pelayanan dan mengganggu efisiensi tim kerja di lapangan. BP Haji menilai, kinerja petugas sangat krusial dalam mendukung kenyamanan dan keselamatan jamaah.
Petugas haji seharusnya menjadi garda terdepan dalam pelayanan, bukan justru menjadi beban di tengah padatnya aktivitas ibadah di tanah suci.
Pelatihan 3 Hari Dinilai Tak Cukup, Badan Penyelenggara Haji Akan Terapkan Sistem Barak Militer
Saat ini, pelatihan petugas haji di banyak daerah hanya berlangsung selama tiga hari.
Dahnil menyebut metode pelatihan tersebut tidak cukup membentuk kesiapan mental, kedisiplinan, dan kekuatan fisik yang dibutuhkan.
Ia mengatakan bahwa ibadah haji membutuhkan ketahanan luar biasa, terutama selama puncak ibadah di ArmuznaArafah, Muzdalifah, dan Minayang sangat menguras tenaga.
Sebagai solusi, BP Haji akan menerapkan metode pelatihan ala militer yang dilakukan di barak selama minimal satu bulan.
Langkah ini bertujuan membentuk petugas haji yang memiliki semangat kolektif, fisik yang prima, dan mental tangguh.
Mereka juga akan dilatih dengan dasar-dasar komunikasi, terutama penguasaan bahasa Arab fungsional yang penting untuk membantu jamaah.
TNI Akan Dilibatkan dan Rekrut Jenderal untuk Perkuat Pelatihan Petugas
Untuk mendukung pelatihan yang lebih disiplin, BP Haji akan bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Dahnil mengungkapkan bahwa seorang jenderal bintang dua dari infanteri akan bergabung sebagai tenaga ahli di BP Haji.
Peran jenderal tersebut adalah mengatur sistem pelatihan barak dan memimpin para pelatih selama proses pembekalan berlangsung.
BP Haji berharap kolaborasi ini dapat menghasilkan petugas yang tidak hanya siap secara teknis, tetapi juga memiliki kepemimpinan dan semangat kebersamaan.
Dengan pendekatan semi-militer ini, BP Haji ingin memastikan bahwa setiap petugas memiliki integritas, tanggung jawab, dan kekuatan fisik yang memadai.
“Kalau mereka sudah terbiasa dengan kehidupan barak, maka mereka juga akan memiliki kekompakan dan saling dukung di lapangan,” ujar Dahnil.
Rekrutmen Daerah Akan Diawais Ketat, Tak Ada Lagi Titipan atau Petugas Fiktif
Salah satu titik lemah dalam sistem lama adalah proses rekrutmen petugas di tingkat daerah.
BP Haji menemukan bahwa di beberapa daerah, pemilihan petugas haji kerap tidak objektif, bahkan ada indikasi nepotisme atau penempatan titipan.
Sebagian besar dari petugas ini justru tidak paham tugasnya, dan hanya ikut serta sebagai penumpang.
Untuk itu, proses seleksi akan disusun ulang agar lebih transparan dan berbasis kompetensi.
Seleksi akan dimulai lebih awal dan dilakukan secara terbuka, melibatkan panel independen dan uji fisik serta psikologi yang ketat.
BP Haji menargetkan hanya petugas dengan kualitas terbaik yang akan diberangkatkan pada musim haji 2026 mendatang.
Dengan berbagai temuan di lapangan dan evaluasi menyeluruh, BP Haji menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas pelayanan haji.
Mulai dari pembenahan sistem pelatihan, perekrutan berbasis kompetensi, hingga kolaborasi dengan TNI, semua langkah ini dirancang untuk menyiapkan petugas yang tangguh dan bertanggung jawab.
Ke depan, diharapkan tidak ada lagi petugas haji yang hanya numpang berangkat tanpa kontribusi nyata di lapangan.
Dengan manajemen baru yang lebih profesional, BP Haji ingin menjadikan ibadah haji sebagai pengalaman ibadah yang khusyuk dan aman bagi seluruh jamaah Indonesia.***
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest






