Redaksiku.com – Aksi Habib Lelang Bolu Bekas Gigitan Viral, Picu Respons Beragam Warganet
Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah video yang memperlihatkan seorang pria bergelar Habib sedang melakukan lelang terhadap sepotong kue bolu yang telah ia gigit. Potongan video tersebut menjadi viral setelah banyak akun membagikannya ulang, memunculkan berbagai reaksi dari para pengguna internet.
Dalam cuplikan yang beredar luas, tampak sang Habib tengah mengangkat sepotong kue bolu yang telah tergigit, dan menyatakan bahwa benda tersebut akan dilelang dengan harga pembukaan sebesar Rp150 ribu. Tindakan yang dianggap tak biasa itu langsung menarik perhatian netizen dari berbagai kalangan.
Video tersebut diunggah oleh salah satu akun media sosial pada Rabu (11/6/2025), dan dalam keterangan unggahan itu tertulis, Tuai pro kontra, seorang habib lelang bolu bekas gigitannya mulai start dari 150 ribu. Sejak saat itu, video tersebut telah ditonton ribuan kali dan menjadi bahan perbincangan yang cukup hangat di berbagai platform.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Komentar Pedas Netizen
Tak butuh waktu lama, kolom komentar pada unggahan video itu langsung dibanjiri berbagai pendapat. Sebagian besar netizen mengaku heran dan tidak habis pikir dengan tindakan tersebut. Banyak dari mereka yang melontarkan kritik dengan nada sindiran hingga candaan sarkastik.
Lah, emang mau beli yang bekas gigong begitu? tulis seorang netizen dengan nada tak percaya.
Netizen lain juga ikut menanggapi, Jijik nggak sih? Gue mah ogah banget beli kayak gitu.
Sementara itu, komentar lain berbunyi, Idih, najis banget! Nggak masuk akal deh.
Banyak komentar bernada serupa yang mempertanyakan tujuan dan nilai dari melelang makanan bekas konsumsi, apalagi dilakukan oleh seseorang yang memiliki status keagamaan dan pengaruh publik seperti Habib.

Pro dan Kontra di Masyarakat
Meskipun mayoritas komentar yang muncul terkesan negatif, namun ada pula sejumlah pihak yang melihat tindakan sang Habib dari sisi yang berbeda. Beberapa netizen menduga bahwa aksi tersebut mungkin dilakukan dalam konteks tertentu seperti acara amal, penggalangan dana, atau sekadar bentuk candaan internal yang tidak dimaksudkan untuk publikasi luas.
Bisa jadi ini buat charity kali, jangan langsung nge-judge, tulis salah satu pengguna media sosial yang mencoba bersikap netral.
Ada pula yang menyatakan bahwa selama lelang dilakukan secara sukarela dan tidak memaksa, maka tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Kalau memang ada yang mau beli dan merasa itu istimewa, ya silakan saja. Namanya juga lelang.
Namun tetap saja, sebagian besar publik merasa bahwa tindakan melelang makanan bekas gigitan, terlebih oleh figur publik, dinilai tidak pantas dan berpotensi merusak citra.
Nilai Simbolis atau Sensasi?
Sejumlah pengamat media sosial menilai fenomena semacam ini tak bisa dilepaskan dari budaya viral dan pencarian sensasi di dunia digital. Dalam era ketika konten menjadi mata uang berharga, tak sedikit tokoh publik yang sengaja membuat aksi nyeleneh untuk mendapatkan atensi, likes, dan engagement tinggi di platform digital.
Menurut pengamat komunikasi digital, tindakan seperti ini bisa saja dimaknai sebagai strategi untuk menaikkan eksistensi atau popularitas, meski harus mengorbankan etika atau norma sosial. Ini semacam strategi yang memanfaatkan keunikan atau hal tidak biasa untuk menciptakan viralitas. Tapi tentu efek jangka panjangnya bisa positif atau negatif, tergantung persepsi publik, ujarnya.
Di sisi lain, ada pula yang mengaitkan tindakan tersebut dengan nilai simbolik. Beberapa orang percaya bahwa benda-benda yang bersentuhan dengan tokoh agama atau spiritual bisa memiliki nilai lebih, dan mungkin itu menjadi dasar mengapa seseorang berani menawar kue bekas gigitan tersebut.
Etika dan Tanggung Jawab Sosial Tokoh Publik
Perdebatan soal etika pun ikut mencuat. Banyak yang mempertanyakan apakah wajar seorang tokoh keagamaan seperti Habib melakukan aksi seperti itu di ruang publik, mengingat ia memiliki banyak pengikut dan menjadi panutan bagi sebagian masyarakat.
Tokoh-tokoh publik, apalagi yang memiliki embel-embel keagamaan, dianggap memiliki tanggung jawab moral dan sosial lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum. Apa yang mereka lakukan bisa ditiru, diikuti, atau bahkan dijadikan panutan oleh para pengikutnya. Karena itu, tindakan yang dianggap kurang pantas, meskipun dilakukan dalam konteks bercanda atau lelucon, tetap bisa menimbulkan kontroversi.
Beberapa warganet mengaku kecewa dan merasa tindakan tersebut mencederai rasa hormat terhadap figur keagamaan. Namun ada pula yang meminta publik untuk tidak terlalu cepat menghakimi dan menunggu penjelasan resmi dari pihak terkait.
Penutup
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari sang Habib maupun klarifikasi dari pihak yang terlibat dalam video tersebut. Perdebatan di kalangan warganet pun masih terus berlangsung, dengan berbagai sudut pandang yang terus bermunculan.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa di era media sosial yang serba cepat, tindakan sekecil apa pun bisa menyebar luas dan memicu kontroversi. Tokoh publik perlu lebih berhati-hati dalam bertindak dan memahami dampak dari setiap langkah yang mereka ambil, terutama ketika berada di ruang digital yang penuh sorotan.
Follow Sosial Media Redaksiku : Facebook, Instagram, Tiktok, X, Youtube, Pinterest
Penulis : Redaksiku
Editor : Redaksiku
Sumber Berita: Redaksiku






